Pada anak-anak yang mengaku telah di-bully oleh saudara mereka beberapa kali seminggu, dua kali lipat lebih besar mengalami depresi hingga mencapai 12,3%, kecemasan 16%, dan 19% kemungkinan menyakiti diri sendiri. Sedangkan Dr. Lucy Bowes mengungkapkan efek bullying oleh saudara diketahui sama antara anak laki-laki maupun perempuan. Biasanya bullying kerap terjadi pada keluarga yang memiliki anak kurang dari tiga. Di pihak lain, Lucie Russell, direktur kampanye dan media Young Minds, menegaskan bullying merupakan peristiwa traumatik dan menyakitkan bagi anak-anak usia dini yang mengalaminya dan dampak jangka panjangnya dapat bertahan sampai beberapa tahun setelahnya.

Penelitian oleh dua ilmuwan dari The American Pediatric Asociation yaitu Professor Dieter Wolke dan Dr. Suzet Tanya Lereya menyebutkan menjadi korban bully dapat meningkatkan risiko terserang gangguan tidur yang biasa disebut dengan istilah parasomnia. Masalah yang akan timbul dari gejala gangguan tidur tersebut antara lain mimpi buruk, teror di malam hari, hingga mengalami tidur berjalan. Riset juga dilakukan dengan mewawancarai kelompok anak–anak dari Avon Longitudinal Study of Parents and Children (ALSPAC) yang duduk di bangku sekolah dasar berusia 8 hingga 10 tahun. Anak-anak ini ditanya tentang pengalaman merasakan di-bully, dan kemudian terserang parasomnia saat duduk di bangku sekolah menengah pertama ketika memasuki usia 12 sampai 13 tahun. Selain dapat menyebabkan gangguan tidur, anak korban bullying juga berisiko terserang depresi dan selalu merasa rendah diri. Anak–anak yang sering diintimidas akan mengalami kesulitan dalam melakukan kegiatan ­ sik seperti berjalan, berlari, juga melakukan berbagai macam olahraga. Peneliti King’s College London menyatakan anak-anak korban bullying ternyata masih merasakan dampak kesehatan psikis dan mental akibat peristiwa yang dialaminya lebih dari 40 tahun. Para peneliti melakukan studi terhadap 7.771 orang yang mengalami bullying ketika masa anak-anak. Ternyata mereka memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi dan kecemasan dan kemungkinan memiliki kualitas hidup yang lebih rendah pada usia 50 tahun.