AYO CEGAH BULLYING!

Siapa yang tidak senang jika memiliki anak bukan menjadi pelaku atau korban bullying? Tentu saja semua orangtua menginginkannya. Namun untuk mewujudkannya tidaklah mudah, karena diperlukan keterampilan. Berikut tip yang perlu dikembangkan oleh orangtua.

Pertama, selalu waspada terhadap perilaku yang tidak biasa. Gejala umumnya termasuk keluhan ­ sik seperti sakit perut, khawatir, ketakutan, hingga tidak mau ke sekolah. Salah satu pertahanan diri yang umum adalah menghindari atau menarik diri dari hal-hal yang membuat stres. Anak-anak juga memiliki kecenderungan untuk meluapkan stres dengan bertindak tidak biasa atau menjadi agresif. Jika orangtua mengetahui ada perubahan dalam kepribadian anak seperti mudah marah dan gampang tersinggung serta membangkang atau perubahan dalam tidur, nafsu makan, atau hasil belajar, sering kali merupakan indikasi bahwa memang ada masalah.

Kedua, jadilah role model positif bagi anak. Anak sering belajar berperilaku bullying, karena belajar dari pola asuh orangtuanya dan orang terdekat, seperti; kakak, kakek, nenek, pengasuh dan orang sekitar yang sering berinteraksi dengan anak. Maka, jadilah model perilaku dan komunikasi yang tepat dalam hubungan dengan anak. Ajari anak cara tepat dalam memperlakukan orang lain. Seperti, gunakan bahasa yang santun dan tegas dalam interaksi dengan orang lain. Ajarkan juga untuk tegas dan bisa berkata, “Tidak, jangan lakukan itu’” untuk membela teman lain, jika ada indikasi bullying.

Ketiga, ajarilah anak makna menjadi teman baik. Tidak sedikit orangtua menyerahkan proses berteman anak secara alamiah, namun kurang mengenalkan nilai bagaimana berteman dengan baik dan apa manfaat berteman jika dilakukan dengan cara baik. Diantara skill berteman yang perlu ditumbuhkan pada anak, di antaranya: melatih kemampuan pengelolaan emosi, melatih anak bertemu dengan sikap teman yang berbeda serta melatih keterampilan sosial. Anak dilatih untuk mengenali siapa temannya dan bagaimana sifat-sifatnya. Anak belajar berkenalan dan memperkenalkan diri pada anak lain. Anak belajar mendengarkan sekaligus belajar berbicara. Anak belajar menyetujui sekaligus menolak ajakan teman secara efektif. Kemampuan komunikasinya akan berkembang ketika semakin banyak kesempatan untuk berteman.

Berikan anak persiapan yang matang untuk mereka yang akan menghadapi tes IELTS di tempat terbaik kursus persiapan IELTS Jakarta.