Keempat, jadikan rumah sebagai surga yang aman bagi anak seusai jam sekolah. Jadikan rumah sebagai surga bagi penghuninya. Tempat berteduh yang mendatangkan rasa aman dan nyaman, tanpa ada muatan kekerasan/diskriminasi dalam bertutur kata, bersikap dan bertindak. Tempat kembali dari aktivitas, untuk sama-sama menjadi pribadi yang saling menghargai dan saling melindungi, saling memahami, saling berbagi, saling belajar dan tak akan berhenti berlatih menjadi lebih baik.

Kelima, manfaatkan televisi sebagai media sarana belajar dan lindungi anak dari tayangan/hiburan/pemberitaan yang bermuatan kekerasan. Saat ini televisi belum memberikan jaminan aman bagi tumbuh kembang anak. Faktanya masih banyak tayangan, pemberitaan dan kartun yang bermuatan kekerasan fisik, psikis, sosial dan kejahatan seksual, penggunaan senjata tajam dan benda keras untuk menyakiti dan melukai orang lain, kata-kata kasar, adegan-adegan berbahaya, sikap dan sifat negatif yang dipertontonkan, muatan porno, unsurunsur mistis. Kondisi ini tentu sangat berbahaya bagi tumbuh kembang anak, karena satu sisi bisa menimbulkan perilaku imitasi (peniruan), di pihak lain juga dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi anak.

Keenam, jadilah pendengar yang baik untuk anak. Kesibukan kerja terkadang membuat orangtua mengabaikan cerita-cerita anak. Luangkan waktu 5 menit saja untuk mendengarkan celotehannya dan mengerti betul isi cerita itu. Jangan hanya “mengiyakan” agar cerita anak itu lekas selesai atau mengatakan “Nanti Papa sedang sibuk.” Sebersit wajah kecewa akan tampak dan membuat anak akan semakin malas untuk bercerita pada Anda. Akhirnya kebiasaan bercerita dan sharing dari anak akan menghilang. Ketertutupan pada anak, sering kali tumbuh karena berawal dari orangtua yang tak mendengarkan cerita anak. Dengan menjadi pendengar yang baik, disamping keterbukaan, juga akan menjadikan anak memiliki keterampilan mengekspresikan dan cakap dalam mengungkapkan sesuatu.

Ketujuh, bangun rasa percaya diri anak. Semakin baik rasa percaya diri anak, semakin kecil kemungkinan bullying memengaruhi harga dirinya. Ajari anak agar punya hobi, ikut kegiatan ekstrakurikuler dan situasi sosial yang bisa memperlihatkan potensi terbaik pada anak. Persahabatan yang kuat dan memiliki teman akrab dapat membantu anak mengatasi si pengganggu. Keterampilan asertif dan pengalaman dengan berbicara tentang perasaan dapat lebih meningkatkan harga diri karena anakanak akan menjadi lebih nyaman dalam mengekspresikan kondisi mereka.