Kasus bullying pada anak merupakan fenomena gunung es, kasus yang mencuat terlihat sedikit, namun faktanya sangat banyak, mengakar, terwariskan dari generasi ke generasi dan sering kurang terpantau oleh orangtua. Pasal 26 ayat (1) UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, menyatakan “Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk: a. mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak”. Dalam hal ini orangtua wajib melindungi anak dari segala bentuk tindakan negatif termasuk bullying. Sayangnya, tidak sedikit orangtua berpandangan bahwa bullying seolah hanya terjadi di jenjang SMP, SLTA. Padahal, faktanya banyak pula terjadi pada anak sejak rentang usia 3-12 tahun.

Pada usia inilah, kasus bullying kurang mendapat perhatian lebih, karena dianggap wajar. Sering kali anak saling bermain, mengejek, memukul pada teman sebayanya, sebagai bagian dari hiburan dalam bermain dan bersosialisasi. Umumnya anak yang sensitif, kurang bisa bersosialisasi, mudah gelisah, anak yang pasif, cenderung mengalah, mudah depresi, berpotensi menjadi korban bullying. Anak yang memiliki kekurangan, anak yang “nyolot” (terlalu cantik, terlalu populer, dan sebagainya), potensial pula menjadi korban. Namun kondisi ini sering kali tak terpantau dan lepas dari perhatian orangtua, guru bahkan orang sekitar. Kebanyakan guru dan orangtua berpikir bahwa bullying yang terjadi pada anak hanyalah masalah kecil dan tak berdampak negatif.

BERPOTENSI DEPRESI

Menurut penelitian Universities of Oxford, Warwick, Bristol, dan UCL, anak-anak yang sering dibully, baik oleh temannya maupun saudaranya sendiri, berpotensi dua kali lebih besar mengalami depresi saat dewasa. Mereka juga berisiko dua kali lipat melakukan penganiayaan terhadap diri sendiri. Melansir Science Daily, penelitian ini didapatkan setelah mengamati 7.000 anak berusia 12 tahun. Para peneliti mengikuti perkembangan anak-anak tersebut hingga berumur 18 tahun. Selama pengamatan, peneliti menyimpulkan perilaku bullying sangat memengaruhi kesehatan mental. Dampak bullying sangat besar apabila dilakukan oleh saudara sendiri daripada orang lain.

Untuk anak yang ingin mahir dalam berbahasa asing khususnya bahasa Perancis dapat mengikuti bimbingan belajar di tempat kursus bahasa Prancis terbaik di Jakarta.