Perlukah Gigi Dicabut

Dokter Rifan, gigi anak saya (11) ada 7 gigi yang berlubang. Gigi atas 5; 2 berlubang 3 grepes. Lalu gigi bawah 2 berlubang. Sekarang dia sedang sakit demam karena 7 giginya yang bermasalah itu. Gusi atas bengkak jadi bibirnya sampai kering. Apa anak saya perlu dicabut giginya, Dok? Soalnya saya mengganggap usianya masih muda. Saya mohon saran Dokter. Terima kasih. Lila Anggani – Jakarta.

Tampaknya higienitas rongga mulut si kecil sedang mengalami berbagai gangguan (infeksi) baik di gigi- geligi maupun di gusinya. Untuk diketahui, area rongga mulut adalah area yang sering kali mengandung bakteri/kuman patogen yang dapat menimbulkan penyakit. Higiene yang kurang optimal seperti kurang rajin menggosok gigi, pola makan yang sering kali lebih banyak mengandung manis/gula, de­fisiensi vitamin tertentu seperti vitamin C, status imunitas yang kurang baik, dan sebagainya akan mempermudah terjadinya infeksi di gigi maupun gusi.

Infeksi yang ada harus diatasi salah satunya adalah dengan mencabut gigi yang terinfeksi dan sudah rusak agar infeksinya tidak menyebar bahkan ke dalam aliran darah. Sebaiknya Ibu berkonsultasi lebih lanjut ke dokter gigi yang bersangkutan agar lebih jelas mendapatkan informasi, termasuk pertumbuhan gigi setelahnya.

Hamil, Alami Keputihan

Dokter Judi, salam kenal. Saya (25), dengan usia kandungan 2 bulan. Sebelum hamil, saya pernah mengalami keputihan, tidak sampai berbau, tapi mengganggu. Begitu hamil, saya kaget, ternyata masih saja keputihan. Saya dulu pernah sekali membaca mengenai keputihan itu diakibatkan oleh jamur. Apakah keputihan ini akan memberikan dampak yang berbahaya terhadap janin saya? Mohon penjelasan Dokter Judi. Terima kasih. Denny Agungsari – Denpasar.

Keputihan dibagi dua jenis, pertama yang ­ siologis, misalnya pascasanggama, menjelang dan pascahaid. Sifatnya jernih, tidak berbau, berlangsung satu hingga dua hari dan tidak menimbulkan rasa gatal. Keputihan kedua bersifat abnormal karena merupakan gejala dari suatu penyakit, sifatnya menimbulkan rasa gatal atau perih, keruh, kadang kala bercampur darah, warnanya seperti susu, kuning, kehijauan, atau merah bercampur darah.

Bila keputihan tersebut sering timbul pascasanggama dan berbau, segera ke dokter untuk memastikan tidak ada keganasan. Cairan vagina tersebut harus dianalisis di laboratorium untuk mencari penyebabnya, misalnya jamur candida albicans, bakteri E. Colli atau parasit.

Di Denpasar bisa konsultasi dengan dokter kandungan di RSU Sanglah agar penanganannya lebih baik dan sesuai standar. Pascapengobatan harus juga diperhatikan kebersihan air yang dipakai untuk mandi atau membilas daerah kemaluan serta mandi dulu sebelum dan sesudah berhubungan intim. Hal ini penting untuk mencegah keberulangan dari keputihan tersebut.

Simak juga informasi lengkap mengenai kursus bahasa Jerman di Tangerang.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *